Banggai Kepulauan – Sebanyak 20 orang masyarakat di Desa Komba-Komba Banggai Kepulauan, yang mewakili empat komunitas pembudidaya rumput laut mengikuti pelatihan pemetaan partisipatif menggunakan Global Positioning System (GPS) melalui aplikasi Avenza Maps. Pelatihan yang difasilitasi Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) ini merupakan bagian dari upaya memperkuat perlindungan ekosistem pesisir dan kawasan karst dari ancaman tambang batu gamping.

Pelatihan  selama dua hari ini bertujuan membekali masyarakat dengan keterampilan memanfaatkan teknologi digital, untuk melakukan pemetaan wilayah secara mandiri. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memahami pentingnya melindungi sumber-sumber penghidupannya, seperti karst, mata air dan pesisir, tetapi juga memiliki keterampilan memanfaatkan teknologi untuk mendukung upaya tersebut.  Peserta diperkenalkan aplikasi Avenza Maps, yang dapat digunakan melalui telepon seluler (smartphone), guna mendokumentasikan bagaimana kondisi wilayah mereka. Dengan aplikasi itu, peserta belajar cara mengambil titik koordinat dan memetakan berbagai kawasan penting di desa mereka. Seperti area budidaya rumput laut, padang lamun, hutan mangrove, mata air, hingga batas-batas kawasan karst.

Tampak fasilitator saat menyampaikan materi pelatihan pemetaan kepada masyarakat pembudidaya rumput laut Desa Komba-Komba.

Data-data spasial yang dihasilkan melalui pendokumentasian dari aplikasi tersebut, nantinya menjadi dokumentasi, untuk menjadi data dasar penting yang mendukung upaya perlindungan kawasan bernilai ekologis tinggi, serta memperkuat bukti masyarakat dalam proses advokasi tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam.

Salah satu paparan materi dari fasilitator dalam kegiatan pelatihan pemetaan tersebut.

Pengalaman menarik dari pelatihan ini, di antaranya, meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi, yang sebelumnya belum pernah mereka gunakan. Banyak peserta baru mengetahui bahwa telepon pintar yang mereka miliki dapat difungsikan sebagai alat navigasi dan pengambilan koordinat di lapangan atau suatu daerah.

“Kami baru mengetahui bahwa ternyata telepon genggam yang kami gunakan sehari-hari, juga bisa dipakai untuk mengambil titik koordinat. Selama ini kami hanya menggunakannya untuk komunikasi,” kata salah seorang peserta pelatihan.

Selain memahami cara menentukan lokasi secara akurat, peserta juga belajar menggunakan aplikasi tersebut untuk mengukur luas lahan dan kawasan budidaya milik mereka. Kemampuan ini dinilai sangat penting untuk mendokumentasikan aset masyarakat, sekaligus memantau perubahan bentang alam yang dapat terjadi akibat aktivitas pembangunan maupun pertambangan.

Pelatihan ini tidak hanya teori, namun juga praktik lapangan. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan pengambilan koordinat, membuat jalur pemetaan, mengukur luasan area, serta mendokumentasikan kondisi wilayah mereka menggunakan handphone. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat memperoleh pengalaman langsung sehingga dapat menggunakannya secara mandiri, khususnya dalam menjaga sumber-sumber kehidupan ke depannya.

Dengan meningkatnya kapasitas masyarakat dalam pemetaan partisipatif, diharapkan komunitas pesisir tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menghasilkan data spasial yang akurat mengenai wilayah kelola mereka.

Ke depan, data hasil pemetaan partisipatif ini diharapkan menjadi dasar bagi masyarakat dalam memperkuat perlindungan wilayah kelola mereka, mendukung pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan, serta memperkuat perlindungan ekosistem karst, mangrove, lamun, dan mata air. Data tersebut juga dapat menjadi bukti penting dalam mendorong kebijakan yang melindungi kawasan karst dan pesisir Banggai Kepulauan dari ancaman pertambangan batu gamping.

Penulis: Given

Penyunting: Ariyansah NK dan Meliana Lumbantoruan

Privacy Preference Center

Skip to content