Jakarta – Transisi energi global yang mendorong permintaan masif terhadap mineral kritis membawa dampak yang tidak proporsional bagi komunitas lokal. Di satu sisi, industri ekstraktif menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain, komunitas di lingkar tambang harus menanggung tekanan hebat terhadap ruang hidup, sumber air, dan wilayah tangkap nelayan.
Merespons tantangan tersebut, Sekretariat Internasional Extractive Industries Transparency Initiative (EITI) meluncurkan panduan global bertajuk “Engaging Communities in a Changing Extractive Sector Toolkit”. Peluncuran ini diselenggarakan melalui seri webinar internasional pada Rabu (24/6/2026), yang mempertemukan negara-negara pelaksana proyek inisiatif transisi berkeadilan dukungan Ford Foundation, yakni Indonesia, Ghana, dan Kolombia.
Hadir mewakili Indonesia, Deputi Direktur Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Meliana Lumbantoruan, membagikan pengalaman konkret pendampingan komunitas di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah—salah satu episentrum produksi nikel terbesar di Indonesia.
Menolak Elitisme: Dari Laporan Tebal Menuju Pesan WhatsApp
Dalam paparannya, Meliana menyoroti kebiasaan lembaga internasional dan pemerintah yang kerap membanjiri publik dengan dokumen data yang kaku dan elitis. Ia menegaskan bahwa transparansi tidak ada artinya jika data tersebut tidak dapat dipahami oleh masyarakat yang paling terdampak oleh kebijakan.
“Kami datang ke wilayah yang menjadi pusat pendaratan transisi energi ini dengan satu prinsip utama: listen first(dengarkan terlebih dahulu). Kami tidak datang untuk menggurui (don’t lecture), melainkan memproduksi pengetahuan bersama warga (co-produce),” jelas Meliana di hadapan panelis global dan ratusan peserta webinar.
Untuk menjembatani kesenjangan informasi tersebut, PWYP Indonesia memperkenalkan metodologi Data Storytelling (Bercerita dengan Data) yang terdiri dari lima tahapan taktis:
- Sederhanakan (Simplify). Mengupas ribuan baris data terbuka EITI (seperti kewajiban perusahaan dan penerimaan daerah) menjadi satu pesan utama yang kuat.
- Visualisasi dan Emosi (Visualise + Emotion). Mengaitkan angka statistik dengan wajah masyarakat, foto lokasi, dan realitas di lapangan.
- Bingkai Cerita (Frame the Story). Menggunakan struktur narasi sederhana yang berpusat pada pengalaman warga: “Sebelumnya seperti apa – Sekarang bagaimana – Apa yang kami tuntut.”
- Masuk ke Ruang Komunikasi Warga (Meet Their Channel). Meninggalkan format laporan tebal (100-page PDFs) dan mengubahnya menjadi cerita visual pendek yang mudah disebar melalui grup WhatsApp dan media sosial warga.
- Kaderisasi Penghubung Lokal (Train Connectors). Membekali aktor-aktor kunci di desa agar mampu memproduksi dan menyebarkan cerita data tersebut secara mandiri.
Membangun Ruang Dialog yang Setara
Sesi panel yang dipandu oleh Sebastian Sahla (EITI) ini juga menghadirkan perwakilan dari Ghana, Douglas Ferkah dari Environmental Protection Authority (EPA) Ellembelle. Diskusi menyoroti pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan daerah dalam Multi-Stakeholder Group (MSG) di tingkat subnasional untuk menghadapi dinamika transisi energi.
Bagi PWYP Indonesia, inisiatif di Morowali Utara membuktikan bahwa ketika komunitas dipersenjatai dengan data yang mudah dipahami, mereka dapat merumuskan tuntutan yang presisi terkait dampak lingkungan, hak atas informasi, hingga akses partisipasi. Hasilnya, para pemangku kepentingan lokal di sana mulai mendesak pembentukan platform dialog EITI yang permanen di tingkat daerah.
Sebagai mitra pelaksana di Indonesia, PWYP Indonesia berharap toolkit global yang diluncurkan EITI ini tidak hanya menjadi panduan di atas kertas, melainkan benar-benar diadopsi oleh negara-negara pelaksana untuk memastikan bahwa suara komunitas akar rumput menjadi kompas utama dalam tata kelola transisi energi.