Jakarta – Publish What You Pay (PWYP) Indonesia menggelar Pelatihan Gender Action and Learning System (GALS) serta Lokakarya Outcome Harvesting (OH) pada 24–25 Juni 2026 di Cikini, Jakarta Pusat. Kegiatan ini diikuti oleh anggota Sekretariat Nasional (Seknas) PWYP Indonesia dan perwakilan koalisi PWYP yang berbasis di Jakarta.

Pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas internal organisasi sebagai masyarakat sipil yang mendorong tata kelola sumber daya alam dan energi yang transparan, akuntabel, inklusif, serta berkeadilan gender. Melalui pendekatan gender transformatif dan sistem Monitoring, Evaluation, and Learning (MEL), PWYP Indonesia berupaya meningkatkan efektivitas advokasi, riset, dan kampanye, termasuk dalam mendukung program We For JET.

Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada Pelatihan GALS yang difasilitasi oleh Emmy Astuti. Peserta diajak memahami filosofi, prinsip, dan manfaat GALS sebagai metodologi gender transformatif, serta melatih penggunaan berbagai alat utama GALS dalam konteks advokasi, riset, dan kampanye.

Pelatihan diawali dengan penjelasan konsep mendasar mengenai seks dan gender. Seks merujuk pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan berdasarkan alat kelamin dan karakteristik fisik. Sementara gender adalah perbedaan peran, sifat, posisi, dan tanggung jawab yang dibentuk oleh konstruksi sosial masyarakat, dipengaruhi oleh budaya, agama, politik, hukum, pendidikan, dan berbagai faktor lainnya.

Emmy Astuti menjelaskan bahwa ketidakadilan gender masih kerap terjadi di masyarakat. Bentuk-bentuk ketidakadilan tersebut meliputi marginalisasi terhadap perempuan, subordinasi yang menempatkan perempuan sebagai kelas kedua, stereotipe negatif, multi-beban (mengerjakan tugas domestik sekaligus pekerjaan publik), kekerasan fisik, psikis, dan seksual, serta diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, atau status sosial. Akar utama dari berbagai masalah ini adalah budaya patriarki, yaitu sistem yang menomorsatukan laki-laki sehingga menyebabkan subordinasi terhadap perempuan. Budaya patriarki ini tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga laki-laki.

Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai istilah analisis kebijakan seperti buta gender, bias gender, sensitif gender, netral gender, responsif gender, kesetaraan gender, dan berkeadilan gender. Dengan pemahaman ini, diharapkan peserta mampu mendorong kebijakan yang lebih responsif dan adil di lingkungan kerja, masyarakat, maupun pemerintahan.

GALS sendiri merupakan metodologi pemberdayaan berbasis komunitas yang mengutamakan inklusi dan pemberdayaan perempuan. Metode ini membantu petani laki-laki dan perempuan untuk menganalisis kondisi mereka dari perspektif gender, kemudian menyusun visi perubahan yang realistis, terukur, dan berkeadilan gender. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan advokasi berbasis komunitas bagi Seknas dan anggota koalisi PWYP Indonesia.

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan Lokakarya Outcome Harvesting (OH). Peserta mempelajari konsep, prinsip, dan manfaat OH dalam advokasi transisi energi berkeadilan gender, serta menguasai langkah-langkah utama metode ini beserta penerapannya dalam program dan kampanye. 

“Tujuannya agar peserta memeroleh pemahaman yang utuh mengenai perencanaan perubahan berbasis gender dan pemantauan hasil advokasi secara sistematis,” ujar Kepala Divisi Riset dan Advokasi PWYP Indonesia, Mouna Wasef. Melalui kegiatan ini, PWYP Indonesia diharapkan semakin kuat dalam mendorong perubahan tata kelola energi dan sumber daya alam yang transparan, inklusif, dan berkeadilan.

Privacy Preference Center

Skip to content