Perekonomian Indonesia pada tahun 2020 berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp15.434,2 triliun serta PDB perkapita mencapai Rp 56,9 Juta atau US$3.911,7 yang mengalami pertumbuhan sebesar 2,07 persen (c-to-c) dibandingkan tahun 2019, begitu juga dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) diangka -7%, (BPS, 2020). Kehadiran pandemi COVID-19 berdampak kepada cita-cita ekonomi Indonesia yang di proyeksikan akan selalu bertumbuh setiap tahunnya. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia mempunyai target pada tahun 2022 pertumbuhan ekonomi bisa sampai diangka 5%.

Namun demikian, sektor energi yang merupakan salah satu sektor penyumbang PDB terbesar di Indonesia masih berorientasi pada energi fosil yang tidak selaras dengan upaya transisi energi dan pemulihan ekonomi hijau. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa Perkembangan produksi batubara periode tahun 2009-2018 mengalami peningkatan yang cukup besar, dengan capaian produksi pada tahun 2018 sebesar 557 juta ton. Dari total produksi tersebut, porsi ekspor batubara mencapai 357 juta ton (63%) dan sebagian besar digunakan untuk memenuhi permintaan China dan India. Tingginya angka ekspor batubara Indonesia menjadikan Indonesia sebagai salah satu eksportir batubara terbesar di dunia (OEI, 2019).

Transisi energi yang digaungkan oleh pemerintah menjadi terkendala, dikarenakan hadirnya COVID-19, dimana Pemerintah justru kembali menaikkan volume ekspor batubara dengan dalih menggenjot devisa negara. Target volume ekspor batubara naik sebesar 75 juta ton sehingga total jumlah produksi batubara nasional yang semula 550 juta ton menjadi 625 juta ton melalui Keputusan Menteri ESDM No.66.K/HK.02/MEM.B/2021. Untuk menuju upaya transisi energi maka diperlukan program percepatan untuk pemenuhan target EBT melalui pembangunan pembangkit EBT dengan biaya yang kompetitif serta penempatan EBT sebagai kegiatan pemulihan ekonomi nasional. Total potensi EBT yang ada di Indonesia sebesar 417,8 GW, namun pemanfaatan/kapasitas terpasangnya masih 10,4 GW.

Tabel 1 Potensi dan Total Pemanfaatan EBT

EBTTotal Potensi EBT (417,8 GW)Total Pemanfaatan 10,4 GW (2,5)
Samudra17,9 GW0 MW (0%)
Panas Bumi23,9 GW2.130,7 MW (8,9%)
Bioenergi32, 6 GW1.905,3 MW (5.8)
Bayu60,6 GW154,3 MW (0,25)
Hidro75 GW6.121 MW (8,16%)
Surya207,8 GW153,5 MWp (0,07%)

Perlu adanya upaya konsolidasi dari berbagai sektor agar ekonomi hijau menjadi basis utama pemulihan ekonomi. Amalia Adininggar Widyasanti (Deputi Bidang Ekonomi, Bappenas) menjelaskan bahwa untuk mendorong agar pemulihan ekonomi dan penguatan ekonomi hijau di sektor energi harus berorientasi kepada isu transisi energi dan percepatan pemanfaatan EBT. Jika melihat kepada trend secara global terutama di kawasan Eropa, mulai mengalokasikan pengembangan energi yang ramah lingkungan, misalnya Jerman dengan 15 Juta Euro untuk kendaraan listrik, UK dengan 3 Milyar Poundsterling dengan investasi hijaunya. Dalam jangka panjang, jika pemerintah bisa mendorong pemanfaatan EBT sebagai salah satu implementasi penguatan ekonomi hijau akan memberikan manfaat yang berganda yaitu, adanya investasi dan bisnis baru yang berkelanjutan. Amalia juga memaparkan bahwa salah satu upaya pemulihan ekonomi hijau yaitu dengan cara meningkatkan nilai modal, yang disebut dengan nature capital dan menegaskan bahwa ekonomi hijau merupakan ekonomi yang berorientasi kepada ekonomi baru dan terbarukan, dengan mendorong penggunaan energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. (HS)