Jakarta – Transisi energi yang berkeadilan harus menempatkan perempuan dan kelompok rentan sebagai aktor utama, bukan sekadar penerima manfaat. Tanpa partisipasi dan inklusi sosial, transisi energi justru berisiko melahirkan ketimpangan baru.
Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam buku antologi Nyala Inklusi: Perempuan dan Kelompok Rentan di Garis Depan Transisi Energi yang diluncurkan Publish What You Pay (PWYP) Indonesia di Jakarta Pusat pada 9 Maret 2026. Peluncuran buku ini juga menjadi bagian dari peringatan International Women’s Day (IWD) 2026 yang dirangkaikan dengan diskusi bertajuk “Kepemimpinan Perempuan dan Suara Komunitas Lokal dalam Mewujudkan Transisi Energi yang Berkeadilan.”
Peluncuran buku tersebut menjadi momentum penting untuk menyuarakan refleksi sekaligus praktik nyata dari berbagai wilayah di Indonesia mengenai pelaksanaan transisi energi yang inklusif.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Head of Strategic Communications and Campaigns sekaligus Gender Focal Point Resource Justice Network (RJN) Zoe Spriet-Mezoued, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani, Ketua II Bidang Advokasi dan Peningkatan Kesadaran Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Rina Prasarani, Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Mikewati Vera Tangka, serta Dian Amalia Ariani yang juga menjadi salah satu penulis dalam buku tersebut.
Inisiatif penyusunan buku ini berangkat dari kondisi Indonesia yang tengah berada dalam fase penting percepatan transisi energi. Namun, dalam praktiknya, proses tersebut dinilai belum sepenuhnya inklusif dan berkeadilan.
Perempuan, masyarakat adat, komunitas lokal, penyandang disabilitas, dan generasi muda masih sering diposisikan sebagai pihak yang terdampak kebijakan, bukan sebagai subjek utama atau pengambil keputusan. Karena itu, buku ini hadir sebagai ruang untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mendorong terwujudnya transisi energi yang lebih adil.
Antologi ini memuat tulisan dari berbagai daerah di Indonesia yang menggambarkan kondisi nyata di lapangan, termasuk kritik terhadap pelaksanaan transisi energi. Buku ini menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya menyangkut perubahan produksi, teknologi, dan konsumsi dari energi fosil ke energi terbarukan, tetapi juga harus menyentuh aspek keadilan sosial dan inklusi kelompok rentan.
Dalam banyak proyek transisi energi, perempuan, masyarakat lokal, penyandang disabilitas, dan generasi muda masih sering diposisikan hanya sebagai pihak yang terdampak. Padahal, kelompok-kelompok ini memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan transisi energi.
Perempuan, misalnya, memiliki pengalaman langsung dalam pengelolaan energi rumah tangga dan aktivitas ekonomi lokal. Pengalaman tersebut membuat mereka memiliki pengetahuan praktis tentang kebutuhan energi masyarakat. Namun, dalam praktik kebijakan, suara perempuan masih jarang dilibatkan, baik dalam forum perencanaan maupun pelatihan teknologi energi terbarukan.
Kelompok rentan lainnya, seperti penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan generasi muda, juga menghadapi berbagai hambatan struktural. Banyak kebijakan energi belum dirancang dengan mempertimbangkan aksesibilitas, kebutuhan sosial, atau keberlanjutan mata pencaharian masyarakat lokal. Akibatnya, proyek energi skala besar kerap memicu relokasi paksa, kehilangan sumber penghidupan, serta marginalisasi dalam proses pengambilan keputusan.
Melalui berbagai kondisi tersebut, buku ini juga mendorong sejumlah agenda advokasi penting untuk mewujudkan transisi energi yang berkeadilan. Salah satunya adalah integrasi prinsip Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) dalam kebijakan energi. Partisipasi masyarakat juga harus benar-benar bermakna, di mana perempuan, masyarakat adat, penyandang disabilitas, dan pemuda dilibatkan sejak tahap perencanaan. Selain itu, mekanisme konsultasi publik perlu dibuat lebih inklusif, transparan, dan mudah diakses oleh kelompok rentan.
Buku ini juga menyoroti pentingnya demokratisasi energi dan perlindungan sosial dalam proses transisi. Di antaranya melalui dukungan pembiayaan bagi inisiatif energi berbasis komunitas serta program pelatihan teknologi energi terbarukan yang terbuka bagi perempuan dan penyandang disabilitas.
Menanggapi substansi buku tersebut, Zoe Spriet-Mezoued menilai bahwa transisi energi berisiko besar jika hanya berfokus pada eksploitasi mineral tanpa melibatkan masyarakat. Hal ini sejalan dengan berbagai cerita yang diangkat dalam buku tersebut.
“Transisi energi bukan hanya soal mengganti teknologi, tetapi juga soal perubahan kekuasaan, siapa yang berhak mengambil keputusan. Jika kelompok marjinal tidak dilibatkan, transisi ini justru bisa menjadi ancaman baru bagi mereka,” ujarnya dalam peluncuran buku tersebut.
Selaras dengan hal itu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani menegaskan bahwa transisi energi yang adil hanya dapat terwujud jika perspektif gender diintegrasikan dalam seluruh tahapan pembangunan, mulai dari perumusan kebijakan hingga pengawasan. Ia menyoroti bahwa perempuan masih sering diposisikan hanya sebagai konsumen energi, padahal mereka memiliki peran strategis jika diberi ruang dalam pengambilan keputusan.
“Penting untuk memberikan peluang agar perempuan lebih difasilitasi dalam pembuatan kebijakan, serta memastikan analisis Gender dan Inklusivitas (G&I) dimasukkan secara rinci dalam program dan pendanaan energi nasional,” katanya.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan terbaik dari ratusan karya yang masuk ke PWYP Indonesia dalam kegiatan panggilan menulis esai terbuka bertema Perempuan dan Komunitas Lokal di Garis Depan Transisi Energi yang Inklusif dan Berkeadilan, yang berlangsung dari Mei hingga November 2025.
“Buku ini kami persembahkan untuk seluruh masyarakat, khususnya perempuan yang berjuang untuk transisi energi di Indonesia dan di seluruh dunia. Semoga dapat memberikan masukan bagi kita semua,” kata Koordinator Nasional PWYP Indonesia Aryanto Nugroho, menutup peluncuran buku yang sekaligus menjadi bagian dari peringatan IWD 2026.
Penulis: Ariyansyah N Kiliu
Reviewer: Mouna Wasef