Bagi industri tertentu seperti industri pupuk, petrokimia, dan baja, harga gas sangat signifikan terhadap daya saing industri mengingat 70% dari biaya produksi adalah untuk gas sebagai bahan baku. Karenanya, tidak heran jika indusri tersebut menuntut harga yang lebih murah, agar bisa menekan ongkos produksi. Hal ini berbeda dengan industri lainnya seperti pulp and paper, keramik, kaca, makanan dan minuman, oleochemical, karet, tekstil, dan kaos kaki yang menggunakan gas sebagai bahan bakar dalam industri dengan biaya gas di bawah 20% dari ongkos produksi.

Sekjen Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) Dadang Heru Kodri dalam FGD 24/3 lalu menyampaikan bahwa gas dalam industri pupuk berperan sebagai bahan baku/gas proses sebesar 80%, dan sebagai bahan bakar 20%. Menurutnya, harga gas sebesar 6 USD/MMBTU untuk pupuk urea di Indonesia lebih mahal daripada di Malaysia (USD 4/MMBTU) dan Timur Tengah (kurang dari USD 3/MMBTU). Harga gas yang tinggi inilah yang menyebabkan biaya produksi pupuk tinggi, dibandingkan dengan rata-rata biaya produksi urea dunia.

Dadang menambahkan, akibat besarnya biaya produksi memicu adanya peningkatan impor urea dalam negeri dan stok urea pupuk Indonesia yang tinggi. Dengan tingginya impor urea ini dikhawatirkan akan ada ketergantungan terhadap negara lain dan mengancam kedaulatan pangan Indonesia.

Sedangkan untuk industri keramik, walaupun gas tidak menjadi bahan baku utama keramik, gas berperan penting sebagai bahan bakar dimana struktur harga gas terhadap biaya produksi berkisar 25%-40%. Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Elisa Sinaga menyampaikan bahwa kondisi industri keramik saat ini sedang sulit. Dengan utilitas hanya 60% hal ini karena turunnya permintaan dalam negeri karena kondisi ekonomi yang sedang lesu, justru impor keramik meningkat dari Tiongkok dan Vietnam. Menurutnya, utilitas yang rendah ini menjadikan biaya produksi meningkat. Hal ini semakin berat ditambah dengan tingginya harga gas dibandingkan negara lain.

Menurut Elisa saat ini harga gas bagi industri keramik sudah tidak berdaya saing. Harga gas ideal secara ekonomi sebesar 5-6 USD/MMBTU. Tetapi untuk industri keramik apabila pemerintah memberikan harga USD 7/MMBTU yang diterima di plant gate, ini sudah cukup mendongkrak daya saing. “Pemerintah perlu memenuhi janjinya agar harga gas turun, demi meningkatkan pertumbuhan industri,” tegasnya.

Elisa juga menunjukkan harga gas yang berbeda-beda antar daerah, sebagai konsekuensi dari jaringan yang belum terintegrasi. Misalnya, harga gas di Jawa Timur untuk konsumen di atas 300.000 m3/bulan adalah 8,01 USD/MMBTU. Harga ini paling murah jika dibandingkan dengan harga gas di Jawa Barat 9,14 USD/MMBTU, dan harga gas di Sumatera Utara sebesar 12,28 USD/MMBTU.