NTB – Sinar mentari belum terlalu terik menjelang siang itu, sekitar pukul 10.00 WITA. Waktu yang biasanya identik dengan kesibukan domestik bagi banyak perempuan. Namun, pemandangan berbeda terlihat di sebuah desa: sekelompok perempuan berkumpul, berdiskusi, dan saling berbagi gagasan.

Mereka mengorganisasi diri, membentuk kelompok, dan bergerak bersama untuk mendorong perubahan. Urusan domestik tak lagi menjadi penghalang untuk berserikat, berjejaring, dan menghadirkan ide-ide baru dalam komunitas.

Merekalah para perempuan yang tergabung dalam Sekolah Rakyat (SEKRA), sebuah ruang belajar sekaligus gerakan yang diinisiasi oleh Gema Alam di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Salah satu inisiatif penting dari gerakan ini adalah pengembangan biogas dari kotoran sapi di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Lokasinya tak jauh dari bangunan serbaguna desa, tempat mereka rutin berkumpul dan berdiskusi tentang perubahan.

Program biogas ini menjadi salah satu tujuan kunjungan lapangan Publish What You Pay (PWYP) Indonesia bersama Dewan Energi Nasional (DEN) dan sejumlah pemangku kepentingan, baik dari pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil. Kegiatan ini merupakan bagian dari lokakarya bertema Arah Kebijakan Energi Nasional dan Penguatan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) NTB yang digelar di Mataram pada 24–25 Februari 2026.

Dalam kunjungan pada 25 Februari, rombongan peserta, termasuk perwakilan DEN, menyaksikan langsung proses pengembangan dan pemanfaatan biogas di desa tersebut. Mereka juga melihat aktivitas pengorganisasian perempuan yang menjadi penggerak utama inisiatif ini.

Program biogas ini berawal dari inisiatif para perempuan sejak 2022, lalu mulai berjalan pada 2023 dengan dukungan pemerintah desa. Kotoran sapi milik warga dikumpulkan di satu lokasi untuk difermentasi sebagai bagian dari proses produksi biogas.

Hasilnya, gas yang dihasilkan dapat dialirkan ke kompor warga dan digunakan untuk memasak, layaknya elpiji. Dalam uji coba yang dilakukan, kualitas nyala api dinilai cukup baik, meski masih terdapat kendala seperti tekanan gas yang belum stabil.

Meski demikian, potensi pengembangannya sangat besar. Jika terus disempurnakan, biogas ini dapat menjadi solusi energi rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan pada elpiji. Dalam skala lebih luas, inisiatif ini juga berkontribusi pada pengurangan penggunaan energi fosil dan mendorong pemanfaatan energi terbarukan.

Di tengah kompleksitas kebijakan dan pembiayaan transisi energi di tingkat nasional, para perempuan di Taman Ayu justru telah memulainya secara mandiri. Dengan kesadaran dan kerja kolektif, mereka mendorong perubahan dalam pola produksi dan konsumsi energi.

“Kami melihat kreativitas masyarakat dalam pemanfaatan biogas. Ini cukup membantu menghemat pengeluaran dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan. DEN akan mendukung dan mendiskusikannya lebih lanjut dengan Dinas ESDM serta Pertamina,” ujar anggota DEN, Saleh Abdurrahman.

“Maju terus, perempuan Indonesia,” tambahnya, mengapresiasi inisiatif tersebut.

Namun, cerita di Taman Ayu berbeda dengan kondisi di Bendungan Meninting, Desa Bukit Tinggi, yang dikunjungi sehari sebelumnya. Pembangunan bendungan tersebut masih menyisakan dampak negatif bagi sebagian masyarakat, khususnya perempuan, terutama terkait akses air bersih.

Alih-alih memenuhi kebutuhan air, sejumlah warga justru merasa belum mendapatkan manfaat yang diharapkan. Hal ini disampaikan langsung oleh para perempuan dalam diskusi saat kunjungan berlangsung.

“Sebagian besar warga belum mendapatkan air yang cukup. Kami punya bendungan besar yang katanya untuk kebutuhan masyarakat, tapi desa kami masih kekurangan air. Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi ini,” ujar salah satu peserta.

Bendungan tersebut juga direncanakan untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Namun, hingga kini, persoalan akses air bersih masih menjadi perjuangan yang terus disuarakan masyarakat.

Kisah dari dua lokasi ini menunjukkan dua wajah pembangunan: perempuan bisa menjadi pihak yang terdampak, tetapi sekaligus juga menjadi motor penggerak perubahan.

Kunjungan PWYP Indonesia dalam rangkaian lokakarya ini memberikan pelajaran penting: transisi energi dan pembangunan infrastruktur harus memastikan partisipasi yang bermakna, termasuk melibatkan perempuan dan kelompok rentan.

Hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah ke depan, agar setiap kebijakan dan program pembangunan benar-benar inklusif dan berkeadilan.

Penulis: Ariyansah NK

Reviewer: Mouna Wasef

Privacy Preference Center

Skip to content