Lombok, 26 – 30 Januari 2026 – PWYP Indonesia bersama Gema Alam berkolaborasi dalam produksi video dokumenter bertajuk Kepemimpinan Perempuan dalam Penggunaan Energi Terbarukan untuk Bisnis Sosial. Dokumenter ini bukan sekadar karya audio-visual, tetapi bagian dari strategi advokasi untuk mendorong narasi transisi energi yang adil, inklusif, dan berbasis komunitas, serta menempatkan perempuan sebagai aktor kunci perubahan.

Produksi dokumenter dilakukan di tiga desa utama: Rarang (Lombok Timur), Lantan (Lombok Tengah), dan Taman Ayu (Lombok Barat), Nusa Tenggara Barat. Ketiganya menjadi potret bagaimana praktik energi terbarukan tumbuh dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan dari proyek berskala besar yang elitis.

Biogas: Transisi Energi yang Berangkat dari Dapur

Di enam desa di Lombok yaitu Desa Rarang, Lantan, Taman Ayu, Dasan Geria, Pandan Indah, dan Tete Batu Selatan, praktik biogas dan pemanfaatan bioslurry mulai berkembang. Inisiatif ini lahir dari pengalaman krisis LPG, terutama saat hari-hari besar ketika pasokan langka dan harga melonjak tinggi.

Alih-alih memulai dari jargon dekarbonisasi atau target net zero emission, praktik ini berangkat dari persoalan paling konkret: bagaimana memastikan dapur tetap mengepul tanpa membebani ekonomi keluarga.

Di Desa Rarang, praktik biogas masih berada pada level rumah tangga. Satu digester kecil berkapasitas 4 – 6 m³ membutuhkan kotoran minimal dari dua ekor sapi untuk mencukupi kebutuhan memasak 2 – 3 jam per hari. Secara teknis, satu ekor sapi dewasa menghasilkan sekitar 10 – 15 kg kotoran per hari, yang jika difermentasi secara anaerob dapat menghasilkan 0,3 – 0,5 m³ biogas. Volume tersebut setara dengan pengganti sekitar 0,2 – 0,3 kg LPG per hari.

Artinya, satu keluarga berpotensi menghemat Rp80.000 – 150.000 per bulan, tergantung intensitas penggunaan. Bagi keluarga pedesaan, angka ini signifikan.

Namun yang lebih penting dari sekadar penghematan adalah perubahan relasi sosial yang menyertainya.

Perempuan sebagai Penggerak, Laki-Laki sebagai Mitra

Pendekatan pengembangan biogas di desa-desa ini secara sadar dimulai dari perempuan. Mereka adalah pihak yang paling dekat dengan urusan energi rumah tangga seperti memasak, menyediakan air, mengelola kebutuhan keluarga, hingga menjalankan usaha kecil berbasis rumah.

Diskusi kelompok perempuan menjadi pintu masuk pengenalan biogas. Dari ruang-ruang diskusi itulah lahir kepercayaan diri, solidaritas, dan kepemimpinan kolektif.

Namun prosesnya tidak selalu mudah. Tantangan awal yang muncul bukan soal teknis instalasi digester, melainkan negosiasi di dalam rumah tangga, meminta izin suami untuk terlibat dalam kegiatan kelompok.

Dalam praktiknya, pengolahan kotoran sapi, mulai dari pengenceran, memasukkan ke digester, hingga perawatan instalasi, dilakukan bersama. Di sinilah muncul transformasi sosial: laki-laki yang sebelumnya tidak terlibat dalam urusan domestik mulai berbagi peran. Transisi energi berjalan beriringan dengan transisi relasi gender.

Di Desa Taman Ayu, praktik biogas berkembang pada skala yang lebih luas. Pemanfaatannya tidak hanya untuk memasak rumah tangga, tetapi juga mendukung kegiatan konsumsi bersama dan produksi makanan ringan skala UMKM desa.

Model ini menunjukkan bahwa energi terbarukan berbasis komunitas bukan hanya solusi rumah tangga, melainkan juga fondasi ekonomi sosial desa.

Namun ironi muncul ketika kita menengok lanskap yang mengelilingi desa ini.

Di Bawah Bayang-Bayang Batubara dan Galian C

Desa Taman Ayu berada tidak jauh dari PLTU Jeranjang, pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara berkapasitas sekitar 3 x 25 MW yang masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Lombok.

Di saat warga berupaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil melalui biogas, sistem energi daerah masih didominasi pembangkit fosil, dengan bauran energi terbarukan yang belum signifikan.

Kontras ini semakin tajam dengan keberadaan tambang galian C di sekitar wilayah desa. Aktivitas pertambangan menghadirkan ancaman longsor, kerusakan bentang alam, serta tekanan ekologis jangka panjang.

Upaya dekarbonisasi di level komunitas seakan berjalan sendirian di tengah kepungan model pembangunan ekstraktif.

PSN dan Konflik di Tapak: Bendungan Meninting

Di Lombok Barat, warga juga bergulat dengan dampak pembangunan Bendungan Meninting yang rampung pada 2025 dan menelan biaya sekitar Rp1,4 triliun. Bendungan ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diklaim mendukung irigasi pertanian dan swasembada pangan.

Namun di lapangan, pembangunan proyek tersebut menghadirkan konflik horizontal antara warga dan aparat. Sejumlah warga yang tinggal di sekitar bendungan mengeluhkan kualitas air rumah tangga yang menjadi keruh.

Fenomena ini menunjukkan persoalan klasik proyek infrastruktur berskala besar yaitu minimnya partisipasi bermakna masyarakat terdampak serta lemahnya akuntabilitas lingkungan.

Transisi Energi: Dari Bawah atau Dari Atas?

Bagi PWYP Indonesia dan Gema Alam, praktik biogas di enam desa ini memperlihatkan bahwa transisi energi sejatinya dapat dimulai dari dapur rumah tangga, dari kebutuhan riil, dari krisis LPG, dari beban ekonomi keluarga, dan dari kesadaran kolektif warga.

Transisi energi tidak harus selalu identik dengan megaproyek, utang infrastruktur, atau seremoni peresmian. Ia bisa tumbuh dari skala paling kecil, paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dokumenter ini menjadi upaya untuk menghadirkan suara dari akar rumput bahwa transisi energi yang adil harus bertumpu pada kepemimpinan perempuan, partisipasi komunitas, transparansi tata kelola sumber daya, dan keberanian untuk meninggalkan model pembangunan yang eksploitatif.

Transisi energi bukan semata soal mengganti sumber energi. Ia adalah soal keadilan, relasi kuasa, dan masa depan ruang hidup masyarakat.

Penulis: Aulia Sabrini Saragih

Reviewer: Mouna Wasef

Privacy Preference Center

Skip to content